Wednesday, July 21, 2010

Balinese Funeral Ceremony- Upacara Kematian

Tidak semua orang yang meninggal akan segera di kremasi/ di aben. Sebagian besar kawasan di Bali menganut paham kremasi masal/ Ngaben masal yang diselenggarakan setiap 5-10 tahun sekali bersama-seam oleh suatu desa. Hal ini dilakukan untuk menghemat biaya upacara. namun lain halnya dengan masyarakat yang berkasata tinggi dan memiliki dana yang berlebih, mereka cenderung melaksanakan ngaben secara pribadi dan bahkan besar-besaran. Berikut ini beberapa gambar mengenai proses penguburan jenasah bagi daerah yang menganut paham ngaben masal, sehingga orang yang abu meninggal dikuburkan dulu sebelum di kremasi di tahun yang telah ditentukan oleh desa. Istilah penguburan ini dikenal sebagai "mekingsan di pertiwi"/ di titip di tanah.

Para anak cucu datang melayat, namun tidak semua dirundung kesedihan karena keluarga telah merelakan kepergian sang kakek.

Warga desa membantu persiapan tanpa pamrih

Banyak juga orang-orang tua yang hadir untuk menyaksikan si meninggal untuk terakhir kalinya.

Sesajipun disiapkan untuk mengantar kepergian sementara si meninggal sebelum akhirnya di kremasi pada tahun yang telah ditentukan.

Si meninggal di angkat ke panggung di halaman untuk dimandikan oleh keluarga.

Anak cucu mulai memandikan jenasah dengan air dan bunga pengharum.

Tetangga dekat pun ikut memandikan sebagai bentuk solidaritas antar warga.

Si meninggal kemudian di dandani dengan pakaian adat Bali, dan terakhir dibungkus kain kasa dan tikar.

Para pelantun tembang kematian menambah haru suasana.

Kuku kaki dan tangan dibersihkan secara simbolis sebagai makna pembersihan total.

Peti mati di gotong oleh sanak keluarga menuju kuburan/ Setra.


Peti diturunkan ke liang lahat dengan tali dari bambu.



Peti matipun di kubur oleh keluarga, kini menunggu waktu yang tekah ditentukan untuk membongkarnya kembali guna upacara kremasi/ Ngaben.


Wedding


No comments:

Post a Comment

your coments is importan ^^